|
Teologi & Filsafat
|
|
Minggu, 19 April 2009 |
|
Oleh : Mohammad Adlany Dalam sejarah peradaban Yunani, tercatat bahwa pengkajian dan kontemplasi tentang eksistensi Tuhan menempati tempat yang khusus dalam bidang pemikiran filsafat. Contoh yang paling nyata dari usaha kajian filosofis tentang eksistensi Tuhan dapat dilihat bagaimana filosof Aristoteles menggunakan gerak-gerak yang nampak di alam dalam membuktikan adanya penggerak yang tak terlihat (baca: Tuhan).
|
|
Perspektif
|
|
Sabtu, 11 April 2009 |
|
Oleh : Muhammad Alcaff Mukadimah Manusia besar memiliki kebesaran/keistimewaan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa. Karakter, kebiasaan, dan gaya hidup manusia yang besar berbeda dengan manusia biasa. Apalagi jika manusia besar yang kita bicarakan adalah utusan Tuhan alias nabi atau rasul, maka perbedaannya dengan manusia biasa semakin besar. Lebih dari itu, bila yang kita bandingkan dengan manusia biasa adalah nabi terbaik dan utusan Allah Swt termulia maka perbedaannya dengan manusia biasa semakian jauh lebih besar. Sebab, Nabi termulia ini jangankan dengan manusia biasa seperti kita, dengan nabi-nabi lainnya pun beliau dibedakan.
|
|
Perspektif
|
|
Rabu, 18 Maret 2009 |
|
Oleh: Ridho Habsyi Suatu permasalahan yang sangat jelas bahwa agama Islam menolak sebuah konsepatauideologi fanatisme dan nasionalisme kesukuan atau kebangsaan. Islam adalah agama yang bersifat universal dengan memandang dan memperhatikan semua suku, kaum dan bangsa yang beraneka ragam, dan tidak memandang suku, kaum dan bansa tertentu. Dan Islam sejak awal kemunculannya telah mengajak kepada seluruh manusia untuk mencabut dan menghancurkan akar-akar kefanatisan suatu kaum atau suku
|
|
Perspektif
|
|
Senin, 17 November 2008 |
Oleh: Ismail AminPada dasarnya, sejak dahulu rakyat di negeri ini sadar dengan adanya kemajemukan bangsa. Namun kemajemukan itu tidaklah dijadikan dalih untuk saling menyudutkan, justru dijadikan sebagai kekuatan pemersatu menuju terbentuknya republik. Kelompok nasionalis berlatar belakang sekuler, kalangan agamis (Islam), dan kelompok komunis melakukan konsolidasi di bawah payung ideologis bernama keindonesiaan.
|
|
Teologi & Filsafat
|
|
Senin, 17 November 2008 |
Oleh: Mohammad AdlanyAntara agama dan akal terdapat hubungan dua arah dimana hubungan ini berada dalam bentuk yang sedemikian eratnya sehingga mustahil membayangkan adanya pemisahan di antara keduanya. Makna hubungannya bisa dijabarkan dalam bentuk yang lain.
|
|
Khutbah
|
|
Senin, 27 Oktober 2008 |
Pidato Presiden Ahmadi NejadDalam kondisi seperti apakah dunia sekarang ini? Adakah masyarakat dan penduduk puas dengan kondisi yang ada ? Bahkan relakah para politikus dan para penguasa dunia dengan kondisi dunia terkini? Apa yang diinginkan oleh masyarakat?
|
|
Teologi & Filsafat
|
|
Sabtu, 18 Oktober 2008 |
Oleh: Muhammad Adlany
Abu Hayyan Tauhidi, dalam kitab al-Imta' wa al-Muânasah, berkata, "Filsafat dan syariat senantiasa bersama, sebagaimana syariat dan filsafat terus sejalan, sesuai, dan harmonis"[1] Ahmad bin Sahl Balkhi yang dipanggil Abu Yazid, dilahirkan pada tahun 236 Hijriah di desa Syamistiyan. Ketika baligh ia berangkat ke Baghdad dan mendalami filsafat dan ilmu kalam (teologi).
|
|
Perspektif
|
|
Sabtu, 06 September 2008 |
|
Oleh: Muhammad Alcaff Sejak menginjakkan kaki di tanah tercinta Indonesia Raya, ada dua fenomena kontradiktif yang saya saksikan di layar kaca: pertama, keluarga salah satu pengusaha terkenal di Jakarta yang merayakan pesta pernikahan yang menghabiskan milyaran rupiah dan kedua bocah belasan tahun yang beratnya cuma sekitar 6 kilo karena kekurangan gizi. Di sisi lain, acara hiburan dan gosip kehidupan artis masih mendominasi rating TV di tanah air dan mampu menyedot perhatian pemirsa secara fantastis.
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 Selanjutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 18 dari 117 |