Tamu
Saat ini ada 6 pengunjung yang online
Anggota: 394
Berita: 175
WebLinks: 54
Pengunjung: 564341
|
|
Sejarah & Tokoh
|
|
Kamis, 21 Januari 2010 |
Posisi geografis propinsi Sa’dah Propinsi Sa’dah yang mencakup 15 kota di dalamnya terletak di utara Yaman dan berbatasan dengan Arab Saudi. Wilayah Sa’dah adalah pusat Mazhab Syiah Zaidiyah, lebih tepatnya mereka adalah pengikut Syiah Zaidiyah Hadawiyah Jarudiyah yang keyakinanya sangat dekat dengan Syiah duabelas Imam. Jarak wilayah Sa’dah dari ibukota Yaman San'a kurang lebih 243km. Wilayah yang dihuni oleh 3,5% dari total masyarakat Yaman adalah wilayah pegunungan dan dilingkupi oleh barisan gunung-gunung. Posisi geografis itu jugalah yang menyebabkan kekuatan gerakan Al-Husi bertambah dua kali lipat dan sangat menguntungkan mereka dalam perang gerilya.
|
|
Sejarah & Tokoh
|
|
Sabtu, 09 Januari 2010 |
Murtadha Muthahari ra. Sejauh data-data sejarah yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah Islam, dapat ditemukan bebarapa hasil dan dampak dari kebangkitan Imam Husain as. di Karbala, di Asyura, melawan Yazid, penguasa zalim saat itu. Di antaranya: 1. Awal Perlawanan terhadap Penguasa Dapat dipastikan bahwa bahwa Hari Asyura adalah kesempatan terakhir Imam Husain untuk mempersembahkan segala yang dimilikinya di jalan Allah swt, adalah kesempatan terakhir untuk menanam sesuatu. Pada hari itu pula beliau mulai menuai hasil.
|
|
Akhlak & Irfan
|
|
Kamis, 07 Januari 2010 |
|
Kalaulah lidah kita bisa menyembunyikan pengalaman dan kesadaran baik-buruk kita dengan kebohongan kepada orang lain, mata hati kita masih lebih tajam dari sekedar menutup-nutupinya. Dalam ukuran orang normal, kezaliman dengan segala bentuknya akan sangat mengganggu kedamaian jiwa pelakunya meski ia tampil kalem dan dingin. Kezaliman itu pula yang dapat menggoyang ketenangan jiwa kita yang melihatnya sampai kadang mengumpat dari belakang. Ada semacam kecamuk dan keresahan yang bahkan bisa terbaca di raut wajah, denyutan yang terasa di urat nadi, dan deg-degan yang teraba di dada sebagai perlawanan dari mata hati.
|
|
Perspektif
|
|
Rabu, 06 Januari 2010 |
|
Tulisan ini terinspirasi dari sebuah diskusi yang berjudul "Sosialisme Vs Kapitalisme (dimana keberpihakan anda??)". Di awal artikelnya, penulis menjewer kuping kapitalis dengan mengatakan, “kapitalisme adalah akumulasi, eksploitasi, dan ekspansi, yang ujung-ujungnya adalah sebuah pertumbuhan ekonomi. Dan di antara ketiga hal tersebut, yang menjadikan kapitalisme sangat tidak manusiawi adalah EKSPLOITASI”. Selanjutnya penulis memuja puji sosialis demikian, “sedangkan sosialisme, lebih memegang prinsip kontrol penuh negara dalam perencanaan ekonomi, dan diharamkan adanya pemilik modal.” Tentu saja dua paragraph diatas cukup menggelitik jiwa awam saya, kenapa ..?. Kalau mau jujur, sebenarnya dua ideology diatas yakni sosialis maupun kapitalis sama-sama mengalami krisis eksistensialis. Saya sangat-sangat percaya dengan analisis Robert Heilbroner, seorang ekonom terkemuka di Amerika Serikat yang di kenal sebagai bapak pembela Sosialis dalam sebuah makalahnya “The Triumph of Capitalism”, The New Yorker, edisi 23 Januari 89 di katakannya: ”Pertarungan kapitalisme dan sosialisme sudah berakhir. Sosialis keok, kapitalis menang”. Juga pernyataan lain, dia sangat yakin kapitalisme runtuh. Lihat bukunya “The Nature and Logic of Capitalism”, (New York, W.W. Norton, 1985,p.143)
|
|
Sejarah & Tokoh
|
|
Rabu, 06 Januari 2010 |
|
Pandangan Ahlussunah Wal Jamaah Pendahuluan Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang besar bagi manusia, nikmat yang tak terbatas dan tak bisa dijangkau oleh pengetahuan manusia yang terbatas. Kenikmatan tersebut bisa berupa kenikmatan materi maupun ruhani. Luapan perasaan sedih atau senang misalnya, dan perasaan cinta adalah salah satu contoh dari kenikmatan tersebut. Betapa indahnya karena kita masih bisa merasa senang ketika mendapatkan berita yang menggembirakan, begitu juga betapa indahnya ketika hati kita masih bisa hanyut dalam kesedihan dikarenakan telah datang berita yang menyayat hati dan sanubari.
|
|
Hukum Islam
|
|
Kamis, 10 Desember 2009 |
|
Oleh Muhammad Zen Kita seringkali mendengar kata bid’ah digunakan dalam banyak majelis-majelis agama, dan kitapun sering menyaksikan sebagian kelompok menggunakan kata ini untuk menuduh sebagian kelompok yang lain. Memang secara umum bid’ah dipahami sebagai suatu bentuk kesesatan dalam agama, akan tetapi jika kita tidak memahami apa itu bid’ah sebenarnya dan dengan mudah menuduh orang lain dengan tuduhan bid’ah, maka hal ini merupakan suatu bentuk kekeliruan dan ketergesa-gesaan.
|
|
Hukum Islam
|
|
Rabu, 09 Desember 2009 |
Oleh: Yulian Rama Allah menggariskan perempuan muslimah untuk mengenakan hijab sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah An-Nur: 31. sebagai penghormatan terhadap individu muslimah, Al-Qur’an bahkan membubuhkan kata mukminah dalam ayat tersebut. Mungkin dimaksudkan bahwa jika seseorang merasa dirinya mengimani Islam, maka ia mestilah merasa terpanggil akan seruan ayat ini.
|
|
Akhlak & Irfan
|
|
Minggu, 18 Oktober 2009 |
Oleh Yulian Rama Zakaria, seorang pemuda Kufah beragama Kristen memutuskan untuk masuk Islam karena ia melihat akhlak orang Islam dan kesempurnaan bahasa Al-Quran. Ia pergi ke Mekkah untk melaksanakan haji, dan ketika pulang ia singgah untuk menemui Imam Ja’far Ash-Shadiq. “Wahai Putera Rasulullah, ayah, ibuku dan keluargaku yang lain masih beragama Kristen. Bagaimana saya harus bersikap dengan mereka? Ibu saya buta, sudah tua, dan perlu perawatan. Apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya memutuskan hubungan dengannya.”
|
|
Teologi & Filsafat
|
|
Minggu, 18 Oktober 2009 |
Oleh Ibnu Husein al Hadi Sesuai dengan fitrahnya yang selalu ingin mendapatkan yang terbaik untuk dirinya dan selalu ingin bersama kebenaran kapanpun dan dimanapun ia berada, manusia dalam mengarungi kehidupannya selalu berfikir dan merenungi fenomena-fenomena yang terjadi di planet bumi ini. Proses tersebut menumbuhkan benih-benih pemikiran yang dapat membuahkan sesuatu yang bernama ilmu. Tetapi yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, apakah ilmu itu sebenarnya? Lebih dalamnya lagi, apakah hakikat ilmu itu sebenarnya? Kemudian bagaimanakah cara untuk mendapatkan ilmu tersebut? dan apa konsekuensi yang muncul setelah mendapatkan ilmu tersebut? Apa yang akan dicapai manusia dengan ilmu yang telah diperolehnya? dan pertanyaan terakhir adalah, buah ilmu yang sebenarnya itu apa? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang selalu dicari jawabannya oleh setiap manusia.
|
|
Hukum Islam
|
|
Minggu, 11 Oktober 2009 |
|
Oleh Jamaluddin Ilmu Ekonomi dalam Pandangan Islam Kata “ekonomi” (economy) berasal dari sebuah kata dalam bahasa Yunani yang merujuk kepada “pihak yang mengelola rumah tangga”. Dalam bahasa Arab ekonomi disebut “iqtishaad” artinya “sederhana/penghematan dalam belanja”. Muhammad Bagir Sadr membuat perbedaan definisi yang signifikan antara ilmu ekonomi dan ekonomi islami. Menurut Bagir Sadr :
-ilmu ekonomi merupakan ilmu yang berhubungan dengan penjelasan terperinci perihal kehidupan ekonomi, peristiwa-peristiwa, gejala-gejala, sebab-sebab, serta faktor–faktor yang mempengaruhinya. -ekonomi islami adalah cara atau metode yang dipilih dan diakui oleh suatu masyarakat dalam memecahkan setiap problem praktis ekonomi yang dihadapinya.
|
| | << Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 Selanjutnya > Akhir >>
| | Hasil 1 - 20 dari 134 |
|
|
Berita
Cache Directory Unwriteable
|